Tanggapan Kepala BPS Atas Klaim Kemiskinan di Indonesia

Nov

Tanggapan Kepala BPS Atas Klaim Kemiskinan di Indonesia

Angka kemiskinan di Indonesia kembali menjadi topic pembicaraan capres nomor urut 2 Prabowo Subianto saat bertemu relawan emak-emak di Denpasar, Bali. Prabowo kali ini menyebutkan bahwa rakyat Indonesia 99% hidup pas-pasan. Lebih jauh dia menambahkan bahwa data tersebut sesuai dengan World Bank serta lembaga internasional lainnya.

 

Data berupa curva tersebut memperlihatkan bahwa jumlah masyarakat miskin pada garis kemiskinan nasional tahun 2017 berada pada rasio 10.6% dari PDB. Dari data World Bank, jumlah masyarakat miskin di tanah air terbanyak adalah tahun 1999, yaitu hingga 23.4% kemudian sedikit demi sedikit menurun hingga tahun 2005 berada pada 16% atas PDB.

 

Tapi di tahun 2006 terjadi kenaikan kembali yaitu menjadi 17.8%  atas PDB dan kembali mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya.

 

Data tersebut memaparkan bahwa yang dimaksud tingkat kemiskinan nasional adalah prosentasi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan nasional. Hal ini didasarkan estimasi subkelompok dengan tolok ukur survey rumah tangga serta populasi.

 

Sementara Prabowo menyatakan bahwa data 99% masyarakat Indonesia miskin dan klaim tersebut telah sesuai lembaga togel online terpercaya internasional termasuk Bank Dunia. Artinya capres nomor urut 2 tersebut menyatakan bahwa jumlah orang kaya di tanah air hanyalah 1%.

 

Tanggapan Suhariyanto (Kepala BPS) atas klaim Prabowo

Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik secara gamblang menyatakan tak berniat menanggapi pidato capres nomor urut 2 tersebut tentang keadaan kebanyakan masyarakat Indonesia yang pas-pasan. Walau demikian Suhariyanto mengatakan agar menyertakan data dalam menanggapi klaim siapa saja. Termasuk mencari informasi dari mana sumber data tersebut berasal. Hal ini untuk memastikan apakah data tersebut valid atau sebaliknya.

 

Saat ditemui di Politeknik Statistika STIS, yang bersangkutan mengatakan bahwa dirinya sulit menanggapi statement tanpa data, jadi dia menegaskan bahwa berita apa pun harus didasari oleh data. Apalagi saat ini menurutnya telah masuk pada era transparansi serta keterbukaan termasuk terkait tentang data. Dia melanjutkan bahwa bila sesuatu hal perlu dicari kebenarannya serta dipastikan validitasnya tentu yang dapat dijadikan acuan topic lebih jauh adalah data terkait.

 

Suhariyanto memberi contoh alur kerja pada instansi yang dipimpinnya. Dalam menjalankan tugasnya petugas BPS memotret data riil di lapangan berikutnya memberikan penekanan pada point-point yang dirasa penting. Dari BPS sendiri dikatakan bahwa garis kemiskinan yang paling besar dampaknya dari beras. Secara umum BPS menghimbau agar stabilitas  harga beras harus dijaga karena saat terjadi sedikit saja keguncangan maka akan berpengaruh pada kemiskinan serta inflasi.

 

Data dari BPS berbeda dengan klaim Prabowo

Terkait pernyataan Prabowo saat berdialog dengan relawannya, BPS sendiri mengeluarkan data yang berbeda pada Juli 2018, yaitu tentang Profil Kemiskinan Indonesia. Lalu benarkah mayoritas masyarakat Indonesia hidupnya pas-pasan? Berhubungan dengan Profil Kemiskinan Indonesia yang merekam perkembangan kemiskinan di  tanah air selama September 2017 sampai dengan Maret 2018.

 

BPS setiap tahun merilis dua Profil Kemiskinan Indonesia, yaitu pada periode Maret serta September. Menurut data yang terakhir, prosentasi jumlah penduduk miskin adalah sebesar 9.82% dan dapat dikatakan yang terendah semenjak periode Maret 2011. Dari angka tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk miskin sebesar  25.95 juta orang.

 

Masih menurut Suhariyanto, walaupun angka kemiskinan turun hingga titik terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, masalah kemiskinan ini tetap memerlukan perhatian besar dari pemerintah demi merancang kebijakan ke depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *