Month: June 2018

Jun

2 Tahun Menanti, DPR RI Akhirnya Sahkan UU Antiterorisme

Rangkaian teror di Indonesia sejak awal Mei ini jelas mendesak agar RUU Antiterorisme segera disahkan oleh DPR RI. Apalagi para anggota dewan itu dirasa terlalu berlama-lama sehingga menghabiskan dua tahun lamanya. Tingginya desakan dari masyarakat luas hingga Presiden Jokowi akhirnya membuat DPR RI langsung gerak cepat.

 

Hari Jumat (25/5) kemarin, rapat paripurna DPR akhirnya mensahkan RUU menjadi UU Antiterorisme. Sebelum proses pengesahan, M Syafi’i selaku Ketua Pansus RUU Antiterorisme melaporkan hasil pembahasan dengan merinci apa saja yang sudah dilakukan Pansus seperti melakukan rapat dengan pemerintah, ormas, LSM, Kapolri, Komnas HAM, Kemenag, Setara Institute hingga ICJR, seperti dilansir detikcom.

 

Setelah UU Antiterorisme disahkan, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo pun menghimbau agar masyarakat tidak menyalahkan mereka lagi. “Sekarang bola ada di tangan pemerintah. Hari ini juga kami akan berupaya mengirimkan surat hasil rapat ke pemerintah supaya segera dijadikan UU. Ke depannya kalau ada apa-apa lagi, jangan DPR dijadikan kambing hitam.”

 

Kini setelah RUU Antiterorisme disahkan, Pansus berharap agar PP yang mengatur jalannya UU itu bisa diterbitkan maksimal 100 hari. Lebih lanjut Syafi’i meminta agar Perpres juga diterbitkan maksimal satu tahun setelah UU Antiterorisme disahkan. Dalam menyusun Perpres, politikus Gerindra itu berharap agar pemerintah melibatkan DPR.

 

RUU Disahkan, 461 Anggota Dewan Tak Hadir

 

Meskipun RUU Antiterorisme adalah sebuah pembahasan penting DPR RI yang begitu dinantikan masyarakat, tampaknya tak semua anggota dewan berpikir hal yang sama. Tak main-main, dalam rapat paripurna pengesahan itu ada 461 anggota dewan yang tak hadir. Dari absensi yang ada, cuma 99 dari 560 anggota DPR RI yang datang dengan 90 orang tercatat meminta izin.

 

Rapat paripurna itu dimulai pada pukul 10.30 WIB dan dipimpin Wakil Ketua DPR Agus Hermanto. Beberapa pimpinan judi poker lain yang hadir adalah Ketua DPR Bambang Soesatyo, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Utut Adianto, Menkum HAM Yasonna Laoly dan Wakil Ketua MPR RI Mahyudin serta Hidayat Nur Wahid. Dari 10 fraksi parpol di DPR, kehadirannya di bawah 30% semua. Bahkan yang terendah adalah fraksi PAN di mana dari 48 anggota mereka hanya lima orang yang hadir alias 10% saja.

 

WNI Dari Suriah Bakal Dicek BNPT

 

Melalui UU Antiterorisme, ada banyak hal yang bakal diatur terkait teror termasuk salah satunya adalah kepulangan WNI dari Suriah. Sekedar informasi, ada banyak pelaku jaringan teror di Indonesia yang ternyata sempat mendapat kepelatihan di Suriah. Tak heran kalau akhirnya UU Antiterorisme meminta para WNI yang baru dari Suriah harus menjalani assessment oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

 

Supaya tidak memiliki pemahaman radikal, WNI yang baru dari Suriah akan ikut dalam program kontraradikalisasi dan deradikalisasi. Tak cuma itu saja, UU Antiterorisme juga mengatur mengenai perlindungan korban teror terkait bantuan medis, rehabilitasi, santunan dan kompensasi. Hal ini mengacu pada banyaknya korban teror yang belum sembuh dari trauma teror mengerikan.

 

Lebih lanjut lagi, UU Antiterorisme merumuskan bahwa TNI akan ikut serta dalam pemberantasan aksi teror yang ada di Indonesia. Masuknya TNI ini jelas membawa amunisi baru dalam memberantas jaringan teror karena sejauh ini hanya pihak kepolisian yang dilibatkan. Semoga saja dengan perubahan ini, segala bentuk aksi teror akan bisa dihilangkan dari bumi Nusantara.

Jun

‘ALAS PATI’ Teror Hutan Kematian Rilis 24 Mei 2018

Belasan tahun dikenal sebagai pemain sinetron, Nikita Willy akhirnya mulai mencoba peruntungan di film layar lebar sebagai aktris. Pada tahun 2017 kemarin misalnya, perempuan cantik berusia 23 tahun ini terlibat dalam tiga film yakni FROM LONDON TO BALI, TOTAL CHAOS dan GASING TENGKORAK. Dari ketiga film itu, GASING TENGKORAK yang paling sukses dan menarik ratusan ribu penonton. Tak heran kalau Nikita setuju main horor lagi.

 

Bekerjasama lagi dengan sutradara Jose Poernomo, Nikita siap merilis ALAS PATI pada 24 Mei 2018 ini. Seperti judulnya, ALAS PATI bermakna sebagai hutan kematian dan memang akan menyorot teror mencekam di hutan. Dalam film yang naskahnya digarap oleh Jose dan Aviv Elham itu, Nikita berperan sebagai seorang Youtuber bernama Raya yang memang suka merekam video di tempat-tempat unik dan cerita aneh.

 

Raya lalu mengajak keempat temannya, Vega (Stefhanie Zamora), Jesi (Naomi Paulinda), Rendy (Roy Sungkono) dan Dito (Jeff Smith) untuk pergi ke hutan angker yang dijuluki Alas Pati. Mereka nekat membuat vlog mengenai kuburan misterius di hutan mati itu supaya channel Youtube mereka jadi viral dan laris. Namun sesampainya di Alas Pati, kelima anak muda ini malah menemukan kuburan aneh dengan mayat-mayat yang dibiarkan terbujur di atas bambu yang diyakini masyarakat kalau arwah para mayat itu gentayangan.

 

Sejak kejadian itu, Raya dan teman-temannya pun langsung mengalami berbagai peristiwa aneh dan teror agen togel menyeramkan. Mereka pun terkena insiden sehingga meninggalkan Jesi di tengah hutan. Jika melihat sinopsis yang ada, ALAS PATI tampaknya akan menyuguhkan teror serupa dengan film horor Amerika, THE FOREST (2016) yang mengangkat kisah horor di hutan kematian Aokigahara, Jepang.

 

Ketagihan Main Horor, Nikita Willy Tak Pakai Stuntwoman

 

Saat merilis GASING TENGKORAK pada Oktober 2017 lalu, Nikita memang tak menampik kalau dirinya ketagihan terlibat syuting film horor. Terpukau dengan profesionalisme tim film horor, Nikita pun berhasrat bisa terlibat lagi dengan Jose, seperti dilansir detikHOT. Meskipun begitu Nikita tak menampik jika saat syuting GASING TENGKORAK, dia sempat merasakan ketakutan saat harus syuting berdua saja dengan kameramen di tempat yang gelap dan sendirian.

 

Sementara untuk ALAS PATI, Nikita rupanya dituntut harus melakukan berbagai adegan ekstrim di hutan seperti harus panjat tebing hingga lompat dari ketinggian. Yang hebat demi menjalani berbagai adegan itu, Nikita ternyata enggan dibantu oleh stuntwoman. “Awalnya memang ditawari untuk pakai peran pengganti, tapi aku bilang nggak mau. Aku mau lakuin semua adegan sendiri dan terlibat total meskipun adegannya cukup berbahaya.”

 

‘ALAS PATI’ Film Horor Pertama Jose di 2018

 

Keterlibatan Nikita dalam ALAS PATI memang tak bisa dilepaskan dari sosok Jose. Sepanjang perjalanannya sebagai sutradara sejak tahun 2001, Jose setidaknya sudah merilis 22 judul film. Dari film-film itu, mayoritas memang bergenre horor. Film horor pertama Jose yakni JELANGKUNG (2001) bahkan dianggap sebagai salah satu film horor terbaik Indonesia. Jose kemudian mencoba kembali lagi ke genre horor usai kegagalan SUNSHINE BECOMES YOU (2015) lewat JAILANGKUNG (2017).

 

Tak main-main, di 2017 kemarin Jose merilis tiga judul film horor dengan dua lainnya adalah RUQYAH: THE EXORCISM dan GASING TENGKORAK. Perolehan 422.330 penonton lewat GASING TENGKORAK dan sekitar 2.550.271 penonton untuk JAILANGKUNG memang membuat Jose mantap di horor saja.

Jun

‘ZETA’, Film Horor Zombie Pertama Indonesia Yang Sangat Serius

Perkembangan dunia sinematik Indonesia memang semakin sukses dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Tak ingin ketinggalan tren mengenai kisah zombie, sutradara perempuan Amanda Iswan memberanikan dirilis untuk merilis ZETA. ZETA sendiri adalah film horor thriller mengenai zombie pertama di Indonesia yang digarap sangat serius.

 

Ingin membuat perbedaan dari film bernuansa zombie yang pernah digarap sineas Tanah Air, Mandy sebagaimana dia disapa pun mengambil referensi dari sejumlah film-film Hollywood yang bertema zombie. Dilansir Wartakota, Mandy pun juga menyebutkan jika serial TV soal zombie yakni The Walking Dead juga jadi salah satu inspirasinya.

 

Lewat trailer perdana yang sudah dirilis, ZETA memang menghadirkan kengerian akibat wabah zombie. Ada tiga tokoh utama yang disorot sepanjang trailer berdurasi dua menit itu yakni Jeff Smith yang berperan sebagai remaja SMA bernama Deon, lalu Cut Mini sebagai pemeran togel online Isma, ibu dari Deon yang tengah sakit dan terakhir ialah Dimas Aditya. Belum bisa memastikan kepastian kapan dirilis, ZETA juga memakai spesial efek yang mumpuni demi menciptakan kehancuran dan kekacauan Indonesia akibat serangan para zombie.

 

Riset ‘ZETA’ Sangat Maksimal

 

Untuk bisa membuat sebuah film horor zombie yang benar-benar masuk akal dan sangat berkualitas, Mandy memang melakukan riset maksimal untuk film garapan Swan Studio itu. Lulusan Quinnipiac University, School of Communications Hamden, Connecticut AS dengan major Film, Video and Interactive Media (2012-2015) ini bahkan meneliti mendalam mengenai asal mula penyakit yang bisa membuat manusia jadi zombie.

 

“Jadi semua yang ada di ZETA ini berbasis ilmu pengetahuan yang kemudian saya gabung jadi film dengan drama aksi dan semoga inti ceritanya bisa sampai ke penonton. Jujur memang udah mulai banyak film tentang zombie di Indonesia ya. Tapi ZETA ini sangat berbeda karena risetnya jelas termasuk bagaimana manusia yang terinfeksi dan jadi zombie itu bergerak. Jadi ZETA ini film thriller dengan bumbu scifi,” papar Mandy panjang lebar.

 

Sosok Mandy pun dirasa cukup kuat bertanggung jawab atas ZETA karena dirinya pernah menghadiri Hong Kong Film Art hingga Cannes Film Market di Prancis. Tak cuma itu saja, ZETA pun diproduseri oleh Syaiful Wathan yang sudah pernah terlibat dalam CATATAN AKHIR SEKOLAH (2005) dan MAKE MONEY (2012).

 

Cerita Cut Mini Ketakutan Demi ‘ZETA’

 

Kehadiran Cut Mini dalam ZETA memang cukup mengejutkan karena ini akan jadi film horor thriller pertamanya sejak menjadi aktris dalam waktu 15 tahun terakhir. Pemeran ibu Muslimah dalam film blockbuster LASKAR PELANGI (2008) inipun menjelaskan kepada Kompas bahwa dirinya memang tak menyukai film bergenre horor dan bahkan tak pernah menonton Walking Dead.

 

Bahkan saat manajernya menawarkan ZETA, Mini sempat menolaknya. Namun setelah membaca sinopsisnya, Mini akhirnya menerima tawaran itu. Namun selama proses syuting, Mini tetap saja ketakutan akan sosok zombie. “Selama syuting itu aku siapkan mental karena kan aku nggak tahu bentuk zombie itu kayak apa. Dan saat aku di lokasi lihat para pemeran zombie, tetap saja kaget akhirnya.”

Melihat riset maksimal dan sinematografi yang diperlihatkan, bukan tak mungkin kalau ZETA bisa mengikuti jejak sukses film zombie Korea Selatan, TRAIN TO BUSAN (2016). Film yang dibintangi aktor tampan Gong Yoo itu bahkan meraup USD 87,5 juta (sekitar Rp 1,2 triliun) dari peredarannya secara global.